soooo akhir-akhir ini bener2 busy rough week. hectic, tugas banyak banget, drama & dance barengan, ulangan menanti minggu depan, materi pelajaran makin susah, dan oracle2 ini (lpj-blanko) itu sangat mengganggu. nggak kerasa banget bentar lagi desember, holy month, dimana awal bulannya begitu indah, yap, ujian semester. another bad stuff will be; gue absen pertama, duduk paling depan. rasanya mau pindah kelas aja biar nggak absen satu. kalo adrian sih absen satu makes no sense, ketauan pinter lah gue gimana apalagi jepang. mau nihil apa nilai gue.
as one of human with religion, i consider my self as org yang alim dan berusaha untuk nggak mau nyontek. tapi apa daya gue gakbisa dan ujung-ujungnya gue butuh nilai gue untuk bagus dan mau gak mau harus minta jawaban temen. jadiiii fix gue bingung. tp gue akan coba untuk gak nyontek. Indonesia for a better future, yea.
Friday, November 30, 2012
Tuesday, October 30, 2012
Mereka
Mereka yang menutup diri bukan berarti sombong. Mereka yang menutup diri bukan berarti individualis. Mereka yang menutup diri bukan berarti pantas dibicarakan dan dianggap remeh sembarangan. Mereka memiliki emosi diri yang belum tentu awam mudah mengerti. Mereka tidak menerima kritik asal. Surat kabar miring dan segala berita palsu yang dimuat massa tentang dirinya. Mereka berpegang teguh pada pendirianya. Yang tidak seorangpun bisa melihat, bahkan dirinya sendiri.
Ada beton baja kuat yang mengelilingi dirinya. Dan rahasia jiwa yang tersimpan rapi dibalik jeruji besi. Yang tak satu orangpun tahu dimana letak kuncinya.
(Annisa R Putriana, 30 Oktober 2012)
Ada beton baja kuat yang mengelilingi dirinya. Dan rahasia jiwa yang tersimpan rapi dibalik jeruji besi. Yang tak satu orangpun tahu dimana letak kuncinya.
(Annisa R Putriana, 30 Oktober 2012)
Labels:
literature
Thursday, October 25, 2012
Negeri Para Bedebah.
buku ini gue baca ketika gue sedang absen masuk sekolah karena sakit. Sebenernya gue beli udah rada lama namun mood membaca tak kunjung datang. gue beli gara-gara si Laras promo Tere-Liye. sekali baca, malah ga bisa berenti samsek. buku ini ngabisin waktu dari jam 7 sampai jam 5 sore. cukup lama juga ya.
Alkisah seorang pria bujang bernama Thomas; karakter utama dari si buku ini. Seorang yang hidup dan bangkit atas nama masa lalu. Gimana ya, gue nggak ada kata yang pas buat mengutarakan novel ini. Isinya 100% mutu, dan ada actionnya. Novel Tere-Liye kali ini bukan sembarang novel biasa. Isinya berkutat dgn Ekonomi dunia dan Realita politik di Indonesia. Serta bagaimana ironisme yang hadir di Indonesia mengatasinya. Ditambah plotnya yang menarik saat jadi buronan dan dikejar polisi terus dimana-mana &trik-triknya yang oke. Four thumbs up deh dari gue pokoknya, nyampe jempol kaki juga tuh.
Kayaknya sih si Tere-Liye agak nyinggung kasus Bank Century beberapa waktu silam sama trouble2 yang ada sangkut pautnya sama Amrik, tp gue kurang ngerti juga. Yang jelas, banyak nyindir secara halus tentang busuk dalamnya regulasi dan korelasi bangsa kita ini. Gue aja yang awalnya awam banget jadi mulai ngerti "Oh ternyata kayak gini" "Oh ternyata kayak gitu". Mengungkap apa yang publik jarang tau kalo mereka nggak hidup jd petinggi-petinggi negara. Gaya hidup pejabat juga dijelasin disini. Kayak salah satu kutipan yang gue setuju banget;
"Penuh semangat bicara tentang regulasi, tata kelola yang baik, tapi mereka sendiri tidak mau diatur dan dikendalikan."
"Sepakat tentang penyelamatan bantuan global, tetapi mereka sibuk mengais keuntungan ditengah situasi kacau balau."
Yang bikin seru kadang ada juga beberapa plot cerita yang bikin ngakak, juga emosionalitas Thomas sebagai pemuda yang masih rasional (walaupun berlebihan) tp semuanya ttp aja dikemas dgn indah. Jadi jeleknya novel ini nggak keliatan, karena pembaca terlanjur terkagum-kagum dgn gaya bahasa serta riset dan wawasan yang disampaikan buku ini. Makna nya jg dapet bgt karena bs terealisasikan dengan baik.
So, buat yang ngaku suka politik & suka baca buku, recommended banget buat dibaca!
Alkisah seorang pria bujang bernama Thomas; karakter utama dari si buku ini. Seorang yang hidup dan bangkit atas nama masa lalu. Gimana ya, gue nggak ada kata yang pas buat mengutarakan novel ini. Isinya 100% mutu, dan ada actionnya. Novel Tere-Liye kali ini bukan sembarang novel biasa. Isinya berkutat dgn Ekonomi dunia dan Realita politik di Indonesia. Serta bagaimana ironisme yang hadir di Indonesia mengatasinya. Ditambah plotnya yang menarik saat jadi buronan dan dikejar polisi terus dimana-mana &trik-triknya yang oke. Four thumbs up deh dari gue pokoknya, nyampe jempol kaki juga tuh.
Kayaknya sih si Tere-Liye agak nyinggung kasus Bank Century beberapa waktu silam sama trouble2 yang ada sangkut pautnya sama Amrik, tp gue kurang ngerti juga. Yang jelas, banyak nyindir secara halus tentang busuk dalamnya regulasi dan korelasi bangsa kita ini. Gue aja yang awalnya awam banget jadi mulai ngerti "Oh ternyata kayak gini" "Oh ternyata kayak gitu". Mengungkap apa yang publik jarang tau kalo mereka nggak hidup jd petinggi-petinggi negara. Gaya hidup pejabat juga dijelasin disini. Kayak salah satu kutipan yang gue setuju banget;
"Penuh semangat bicara tentang regulasi, tata kelola yang baik, tapi mereka sendiri tidak mau diatur dan dikendalikan."
"Sepakat tentang penyelamatan bantuan global, tetapi mereka sibuk mengais keuntungan ditengah situasi kacau balau."
Yang bikin seru kadang ada juga beberapa plot cerita yang bikin ngakak, juga emosionalitas Thomas sebagai pemuda yang masih rasional (walaupun berlebihan) tp semuanya ttp aja dikemas dgn indah. Jadi jeleknya novel ini nggak keliatan, karena pembaca terlanjur terkagum-kagum dgn gaya bahasa serta riset dan wawasan yang disampaikan buku ini. Makna nya jg dapet bgt karena bs terealisasikan dengan baik.
So, buat yang ngaku suka politik & suka baca buku, recommended banget buat dibaca!
Tulisan di belakang buku nya gini nih;
Di negeri para bedebah, kisah fiksi kalah seru dibanding kisah nyata.
Di negeri para bedebah, musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.
Tetapi setidaknya, Kawan, di negeri para bedebah, petarung sejati tidak akan pernah berkhianat.
Labels:
goodreads,
literature,
politics,
review
Thursday, September 20, 2012
Literary Interpretation
Entah sejak kapan gue mulai jatuh cinta pada sastra. Dan sangat bisa dirasakan sastra bayak merubah hidup gue.
Gue seharusnya doing this not that, cause girls do this and dont do that. emangnya salah ya kalo mau jadi diri sendiri? Aneh rasanya emang, kalo lagi berada di toko buku, dan melihat kebanyakan remaja yang mostly berada di rak novel remaja tapi gue malah tetap berjalan tegak lurus melawan arus mencari papan bertuliskan 'Sastra'.
Berambang pada ombak Sastra sama saja berada di dunia jurnalistik. Sastra memang berengaruh besar dalam hidup gue. Dari yang sebelumnya yang gue gabisa sampein apa yg mau gue sampein dengan baik dan benar sampai mencari penengah problematika yang muncul di hidup gue, serta beberapa golden ways yang menyadarkan gue untuk merubah cara pandang gue. Walaupun begitu gue tetap suka membaca novel remaja yang isinya ironisme cinta klasik. Tapi gue akan lebih suka fiksi yang bertema politikus demokrasi sampai cerita kompleks. Tergantung brain mood gue yang sedang ingin dicerna nya. Keduanya berimbang gitu.
Bottom line, jujur aja, gue jatuh cinta. Gue jatuh cinta luar biasa sama kata-kata puitis. Kata-kata cantik. Whether in English or Indonesia. Buat gue sebuah apresiasi besar untuk seseorang yang mampu membentuk paduan kalimat yang dengan membaca dpt langsung beradaptasi. Buat gue, org seperti itu hebat.
Effortnya, lo bisa jadi lebih cermat dalam menangani segala masalah, karena dengan membaca sebuah karya sastra lo diberikan lebih dari satu sisi kehidupan dan gambaran suatu hal.
Minus nya terkadang puitisi membentuk pribadi lo yang overmellow kalo lo ngga bisa guide your principal. Typical yang menginginkan hidup fana yang fiction method. Yang ada di cerita. Tapi buat gue, semua itu akhirnya membentuk satu perpaduan yang bagus.
Kadang gue ingin seperti cerita roman yang gue baca. Kadang juga dari bacaan berat gue, gue tersadar untuk belajar menjadi cewek yang though. Keduanya membuat gue berdiri ditengah-tengah sehingga semuanya menjadi balance. Nggak over mellow, nggak super strong juga.
Gue suka bermain dengan kata-kata dan kalimat-kalimat. Mengotak-atik, memadukan, membentuk kalimat-kalimat sederhana menjadi rapi, indah, dan berkesan. Literature is the greatest masterpiece God ever created inside the art of humanity. And somehow i'm dying in love with it.
Gue seharusnya doing this not that, cause girls do this and dont do that. emangnya salah ya kalo mau jadi diri sendiri? Aneh rasanya emang, kalo lagi berada di toko buku, dan melihat kebanyakan remaja yang mostly berada di rak novel remaja tapi gue malah tetap berjalan tegak lurus melawan arus mencari papan bertuliskan 'Sastra'.
Berambang pada ombak Sastra sama saja berada di dunia jurnalistik. Sastra memang berengaruh besar dalam hidup gue. Dari yang sebelumnya yang gue gabisa sampein apa yg mau gue sampein dengan baik dan benar sampai mencari penengah problematika yang muncul di hidup gue, serta beberapa golden ways yang menyadarkan gue untuk merubah cara pandang gue. Walaupun begitu gue tetap suka membaca novel remaja yang isinya ironisme cinta klasik. Tapi gue akan lebih suka fiksi yang bertema politikus demokrasi sampai cerita kompleks. Tergantung brain mood gue yang sedang ingin dicerna nya. Keduanya berimbang gitu.
Bottom line, jujur aja, gue jatuh cinta. Gue jatuh cinta luar biasa sama kata-kata puitis. Kata-kata cantik. Whether in English or Indonesia. Buat gue sebuah apresiasi besar untuk seseorang yang mampu membentuk paduan kalimat yang dengan membaca dpt langsung beradaptasi. Buat gue, org seperti itu hebat.
Effortnya, lo bisa jadi lebih cermat dalam menangani segala masalah, karena dengan membaca sebuah karya sastra lo diberikan lebih dari satu sisi kehidupan dan gambaran suatu hal.
Minus nya terkadang puitisi membentuk pribadi lo yang overmellow kalo lo ngga bisa guide your principal. Typical yang menginginkan hidup fana yang fiction method. Yang ada di cerita. Tapi buat gue, semua itu akhirnya membentuk satu perpaduan yang bagus.
Kadang gue ingin seperti cerita roman yang gue baca. Kadang juga dari bacaan berat gue, gue tersadar untuk belajar menjadi cewek yang though. Keduanya membuat gue berdiri ditengah-tengah sehingga semuanya menjadi balance. Nggak over mellow, nggak super strong juga.
Gue suka bermain dengan kata-kata dan kalimat-kalimat. Mengotak-atik, memadukan, membentuk kalimat-kalimat sederhana menjadi rapi, indah, dan berkesan. Literature is the greatest masterpiece God ever created inside the art of humanity. And somehow i'm dying in love with it.
Labels:
literature,
thought
Tuesday, September 11, 2012
Dear Nicholas Saputra,
Kalo ada cowo yang pengen bgt gue temuin, ngga lain ngga bukan adalah; Nicholas Saputra. Jujur aja gue termasuk orang telat. Dulu gue ngga pernah nonton satupun filmnya Nicsap kecuali AADC, dan gue masih ngga nangkep kalo ternyata aktualisasinya dia se-hot itu.
Film ini datang dari produser ternama yang sukses merilis Petualangan Sherina yaitu Riri Riza; 3 Hari Untuk Selamanya (2007). Film yang berkonsep road-movie ini berkisah tentang dua orang sepupu; Yusuf dan Ambar yang sedang melakukan perjalanan menuju Jogjakarta. Namun perjalanan yang seharusnya cukup dalam 1 hari menjadi 3 hari karena banyaknya konflik dan tempat yang ingin mereka kunjungi sebelumnya. Film ini punya pesan moral yang bagus serta dialognya sangat jujur terhadap modernisasi remaja, banyak menyindir soal kehidupan dan bicara tentang agama hingga nafsu.
I wasnt the huge fans of Nicsap, justru gue terpana duluan sama sosok Soe Hok Gie. Yang ternyata ketika gue ngebrowse segala tentang Hok Gie, gue nemuin film which is dedicated to Gie dan sbg penghargaan sosok seorang demonstran kontroversial. Setelah gue ngubek segala tentang Gie sampai ngebaca bukunya yang isinya sulit dipahami (bahasanya sgt sastra for real), gue mulai melihat teasernya di youtube. Disitulah gue menemukan kembali permata yang hilang, eaeo. Gie diperanin oleh aktor berbakat hasil cetakan Rangga, Nicholas Saputra.
Gue langsung mencari filmnya mulai dr dvd bajakan itc yang ternyata ngga ada, sampai ke movie online ngga nemu-nemu. gue udah terlanjur ke hipnotis mampus ngeliat Nicsap di film Gie, terlebih dia menjadi gambaran asli sosok yang gue kagumi. Jadinya, gue mulai lagi menonton ulang hasil yang di bintangi Nicsap. So, here we go!
AADC, siapa yang ngga tau Ada Apa Dengan Cinta?(2002). Film drama remaja yang sempat booming parah di tahun 2002. Dian Sastro waktu jamanya tuh badai banget. Lagi-lagi karya garapan Rudi Soedjarwo ini berhasil mencetak bintang-bintang papan atas yang sampai skg pamornya ngga turun di mata khalayak banyak. Film ini juga masuk nominasi-nominasi dan festival film dunia. Sejak itulah, kualitas perfilman Indonesia mulai naik dan menginspirasi banyak sutradara untuk memproduksi film yang berbobot.
Film kedua yang gue tonton agak ekstrim, karena gue baru tau pas ngecek di wikipedia kalo film ini di kreditasikan 18+ apalagi setelah tau lulus sensor nya setelah dipotong 8 adegan dari LSF. Tapi tenang aja, gue nonton film ini dari youtube dan adegan tandakutipnya ikutan dipotong sama yang ngeupload. Sebenernya hilang satu scene aja bikin bingung kalo nggak baca sinopsisnya, tapi gue gamau gambling dosa.
Film ini datang dari produser ternama yang sukses merilis Petualangan Sherina yaitu Riri Riza; 3 Hari Untuk Selamanya (2007). Film yang berkonsep road-movie ini berkisah tentang dua orang sepupu; Yusuf dan Ambar yang sedang melakukan perjalanan menuju Jogjakarta. Namun perjalanan yang seharusnya cukup dalam 1 hari menjadi 3 hari karena banyaknya konflik dan tempat yang ingin mereka kunjungi sebelumnya. Film ini punya pesan moral yang bagus serta dialognya sangat jujur terhadap modernisasi remaja, banyak menyindir soal kehidupan dan bicara tentang agama hingga nafsu.
Yusuf dan Ambar
Dan film ketiga!!! Film dimana dia paling ganteng diantara film-film yang dia peranin.
Kalau Mira Lesmana dan Riri Reza bisa komentar berlembar-lembar soal Gie (2005) dalam buku Catatan Seorang Demonstran, kayaknya gue nggak segitunya. Walaupun didalam movie ini gue agak bingung dengan hadirnya tokoh Ira dan Sinta yang mungkin maksudnya menggambarkan Rina dan Maria. Tapi overall, gue-suka-banget. Terlebih in these movie, Nic sgtlah handsome. Pengen gue bawa pulang, gue jait, dan gue jadiin guling.
Gie, yang memang sejak kecil suka membaca.
Gie dan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) saat berdemo atas rezim partai di masa Orde Baru.
Gie (Nicholas Saputra) dan sahabatnya Herman O. Lantang sbg ketua Senad saat menjadi aktivis.
Gie di Puncak Pangrango
Gie sering mematung dan menulis buku harianya di lembah kasih, Mandalawangi.
Anyway, pamer dikit, gue sudah pernah ke tempat favorit Gie, dimana abu jenazah Gie ditaburkan yaitu di Mandalawangi. Dan setelah gue nonton filmnya yang dibuat di tahun 2005, ternyata sampai skg gaada yang berubah. Track dari puncak Pangrango menuju Mandalawangi masih sama, berupa spt parit kecil yang dilebati Edelweiss.
Dan, film yang baru hari ini gue tontonadalah; Janji Joni (2005). Joko Anwar selalu punya sesuatu yang baru dan berbeda. Selalu ada kejutan didalamnya. Film ini termasuk kategori film ringan, tapi mengupas tentang kehidupan yang selama ini gue nggak tau kalo ada profesi yang namanya Pengantar Roll Film. Mungkin kalo ngga nonton ini gue ngga akan tau perkembangan film dari dulu sampe skg kayak apa. Dan banyak scene yang bikin ketawa. Gue paling suka satu scene dimana Nic as Joni lagi bareng sama tokoh Toni dan Voni. Yang beloman nonton, nonton gih!
Voni, Toni dan Joni
Last but not least, dia hot. Titik.
Monday, September 10, 2012
Elegi
Hujan, lama tidak datang. Sore ini kau turun lagi, mendekap senja yang elegi. Lebih dari tiga hal buruk terdengar hari ini. Hari dimana kau turun lagi.
Hujan, apa sendu ini kau yang bawa? Atau dia yang mengikutimu dari belakang? Kenapa kau biarkan saja dia ikut? Hujan, aku suka ketika kau datang mengunjungiku. Tapi kupikir kau sendirian, ternyata tidak.
Hujan, apa sendu ini kau yang bawa? Atau dia yang mengikutimu dari belakang? Kenapa kau biarkan saja dia ikut? Hujan, aku suka ketika kau datang mengunjungiku. Tapi kupikir kau sendirian, ternyata tidak.
Labels:
literature
Sunday, September 09, 2012
Lima Elang
Seperti biasa, kebiasaan gue di hari minggu adalah...*drumroll*, Mantengin youtube. Nonton segala perfilman Indonesia yang belum gue tonton. Film yang berkualitas tentunya.
Dirilis sebuah film berjudul "Lima Elang" 25 Agustus 2011. Sekitar setahun lalu ya kurang lebih. Film ini gue temuin ketika gue lagi ngesurf youtube dan browsing di mbah gugel. Tiba-tiba gue menemukan judul yang sebetulnya ngga begitu menarik, tapi karena gue memang lagi mood nonton dan mendengarkan serta membaca apapun yang berkaitan dengan Indonesia, maka sekilas gue buka. Pas gue cek trailernya, i'm kind of surprised, ada Chris Nelwan, Bastian, Iqbal coboy jr yang walaupun kecil tp ganteng, dan Kiki, adik kelas gue di putih-biru (Ya dia sebenernya ngga kenal gue sih).
Film ini patut diberikan apresiasi, karena menayangkan buadaya yang tidak lagi menjadi favorit pelajar. Yaitu; Pramuka. Pramuka memang sudah cukup lama menipis dikalangan pelajar, termasuk di sekolah gue sendiri. Waktu gue SMP, gue masih mengenakan seragam naas itu, tapi di SMA gue alhamdulillah nggak ada (tuhkan, terbukti generasi yang meremehkan Pramuka). Tapi begitu gue mengenakan putih abu-abu, gue mendapat kabar dari seorang kawan bahwa SMP gue menghapus seragam Pramuka yang digantikan dengan batik-rok putih macem sekolah swasta. Ini lah salah satu fakta dibalik realita yang bikin miris. Bahwa masyarakat Indonesia tidak lagi menanamkan semangat juang dalam dirinya. Bukan tidak sih, lebih tepatnya berkurang. Gue menyadari itu, karena gue sendiri ironisnya juga begitu.
Rudi Soedjarwo memasangkan cerita yang simpel namun makna dari film ini terealisasikan dengan baik. Mengingat generasi muda kita yang manja dan semaunya sendiri. Sementara disisi lain yang tidak tersorot kamera publik, masih ada seorang anak tangguh dengan masa lalu yang tidak begitu baik namun sangat bersemangat dalam menjalankan hidupnya. Film ini memberi gambaran lebih lanjut tentang segala hal ke-Pramukaan. Sekaligus memiliki pesan moral dan pelestarian Pramuka yang terancam punah. Recommended bgt untuk ditonton oleh anak-anak. Film ini didedikasikan untuk para Praja Muda Karana dari seluruh Indonesia serta sebagai simbolik memperingati Hari Pramuka Nasional yang jatuh pada tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.
Dirilis sebuah film berjudul "Lima Elang" 25 Agustus 2011. Sekitar setahun lalu ya kurang lebih. Film ini gue temuin ketika gue lagi ngesurf youtube dan browsing di mbah gugel. Tiba-tiba gue menemukan judul yang sebetulnya ngga begitu menarik, tapi karena gue memang lagi mood nonton dan mendengarkan serta membaca apapun yang berkaitan dengan Indonesia, maka sekilas gue buka. Pas gue cek trailernya, i'm kind of surprised, ada Chris Nelwan, Bastian, Iqbal coboy jr yang walaupun kecil tp ganteng, dan Kiki, adik kelas gue di putih-biru (Ya dia sebenernya ngga kenal gue sih).
Film ini patut diberikan apresiasi, karena menayangkan buadaya yang tidak lagi menjadi favorit pelajar. Yaitu; Pramuka. Pramuka memang sudah cukup lama menipis dikalangan pelajar, termasuk di sekolah gue sendiri. Waktu gue SMP, gue masih mengenakan seragam naas itu, tapi di SMA gue alhamdulillah nggak ada (tuhkan, terbukti generasi yang meremehkan Pramuka). Tapi begitu gue mengenakan putih abu-abu, gue mendapat kabar dari seorang kawan bahwa SMP gue menghapus seragam Pramuka yang digantikan dengan batik-rok putih macem sekolah swasta. Ini lah salah satu fakta dibalik realita yang bikin miris. Bahwa masyarakat Indonesia tidak lagi menanamkan semangat juang dalam dirinya. Bukan tidak sih, lebih tepatnya berkurang. Gue menyadari itu, karena gue sendiri ironisnya juga begitu.
Rudi Soedjarwo memasangkan cerita yang simpel namun makna dari film ini terealisasikan dengan baik. Mengingat generasi muda kita yang manja dan semaunya sendiri. Sementara disisi lain yang tidak tersorot kamera publik, masih ada seorang anak tangguh dengan masa lalu yang tidak begitu baik namun sangat bersemangat dalam menjalankan hidupnya. Film ini memberi gambaran lebih lanjut tentang segala hal ke-Pramukaan. Sekaligus memiliki pesan moral dan pelestarian Pramuka yang terancam punah. Recommended bgt untuk ditonton oleh anak-anak. Film ini didedikasikan untuk para Praja Muda Karana dari seluruh Indonesia serta sebagai simbolik memperingati Hari Pramuka Nasional yang jatuh pada tanggal 14 Agustus setiap tahunnya.
Saturday, September 08, 2012
Gue, dan Stasiun Kereta di Malam Hari
Dulu, ketika gue masih duduk di sekolah dasar. Gue sering mudik ke kampung menggunakan transportasi besi merayap macem cicak ini. Biasanya gue berdua bokap, sementara tiga anggota keluarga gue yang lain berangkat duluan pagi-pagi naik mobil bersama almarhum kakek gue.
Biasanya dulu, tengah malem, gue dengan menenteng tas ransel kecil duduk di pojokan Dunkin Donuts stasiun Gambir yang sampai sekarang ini bentuknya udah berubah-ubah. Gue selalu pilih donat favorit gue yang warnanya item tengahnya ada putih-putihnya, kagak tau dah namanya apaan. Yang jelas jaman dulu J.co belum terlalu ngeksis dan booming, dan memang belum ada di Gambir. Sementara gue nyeruput coklat, bokap ngebolak-balik majalah otomotif yang dia beli. Anyway gue dulu bener-bener nggak ngerti sm majalah otomotif yang gue kira isinya cuma sekrup, mur dsbg. Begitu juga dengan majalah baru gue, karena kami selalu ngorekin toko buku di stasiun. Dengan berselimutkan jaket merah hello kitty terikat di pinggang, gue menikmati bacaan gue sampai bokap manggil gue untuk segera naik ke atas, peron kereta namanya.
Gue selalu suka memperhatikan situasi kapanpun dan dimanapun termasuk pada hiruk-pikuk seperti pasar. Memperhatikan keadaan manusia-manusia berbeda yang datang dari asal dan dengan alasan yang juga berbeda-beda. Membuat analisis gue bergerak dalam diam dan menumbuhkan argumentasi baru yang bisa gue aktualisasikan pada diri gue sendiri. Didalam lembar yang tenang, gue suka merenung. Membiarkan imajinasi liar dan buas gue mencakar pemikiran gue. Sampai gue mengantuk dan menyimpan nya kembali dalam-dalam.
Labels:
thought,
travelling
Thursday, August 30, 2012
Manusia punya banyak pinta, tapi tak mau usaha. Mau makan enak, tapi tak mau masak. Sebagian manusia anggap babu itu hina. Namun tanpa jantung hina itu mereka hanya kosong. Tanpa dia, mereka mati kelaparan. Tanpa dia, rumah mereka berantakan.Tanpa jiwa yang dianggap rendah itu, mereka tidak bisa apa-apa. Namun setelah raga yang lelah datang untuk menolong, mereka injak dia. Mereka hujatkan perintah demi perintah. Tak lagi mereka hargai bantuan-bantuan dia. Kadang mereka tak punya hati. Mereka anggap kesalahan kecil itu sebagai bencana. Mereka caci maki dia.
Tidak tahu diri. Tidak tahu terima kasih.
Dasar manusia.
(Annisa Rahma Putriana, 2012)
Labels:
literature
Wednesday, August 01, 2012
Gede-Pangrango, sebuah kisah berharga (2nd part)
Straight to the main topic, gue minta maaf sebelumnya karena baru melanjutkan tulisan gue yang belum kelar. So, lets not ruin anything.
Keesokan harinya dengan perasaan bersalah pada alumni, gue dengan on time nya bangun jam tiga pagi. Yang rencana nya langsung masak dan packing. Tapi fakta mengalahkan harapan. Gue merasa agak ngga make otak waktu itu. Cuma orang sakti yang mau bangun jam tiga pagi di ketinggian 2700 sekian mdpl dengan suhu dibawah 7 derajat, dableg.
Gue agak bodo amat waktu itu. Gue ngga peduli mau kurang tidur yang penting ROP ngga ancur tepat hari itu. Gue langsung bangunin orang-orang. Dan spesies yang pertama gue bangunin gak lain gak bukan adalah *drumroll* Genta. Dilanjut Kemal. Lalu kedua curut-curut yang lain nya. Namun pemikiran gue yang tadi kayaknya memang survey membuktikan seratus persen benar. Nggak ada yang mau bangun. Kemal udah melek, tapi masih selimutan di kepompong sleeping bag. Begitu juga gue dan Genta. Sarung tangan dan kaus kaki tebal sudah membungkus anatomi gue sebenarnya, jaket berlapis-lapis, kupluk juga udah. Tetep aja yang namanya dingin bikin orang mager melakukan apapun. Gue masih setengah sadar didalem sleeping bag sampai ponselnya Mupid bunyi lagi, alarm menandakan pukul setengah empat. Genta gue uprak-uprak gue suruh dia bangunin si Dokeng sm Mupid. Akhirnya mereka masak dan beres-beres sementara gue dan Kemal....masih di balik tenda. Nyengir horizontal.
Sleeping bag yang masih berceceran gue lipetin satu-satu menjelang pagi. Kemal ngangetin tangan pake api terus gue ikutan. Menurut ilmu yang ditangkap, kalo kita kedinginan lebih baik cuci tangan langsung pakai air yang ada di ekosistem itu. Supaya suhu tubuh kita bisa beradaptasi. Dan entah kenapa gue malah merasa makin dingin, sementara temen-temen gue yang lain udah mulai lepas sarung tangan. Kemal pun pergi ke tenda tetangga ngebangunin Amal Hans Rei & Abun. Yang lain pada beberes ngambil air, tp Jodi sm Sari belum juga bangun. Terus gue ngeliatin Rei nenteng jerigen aer ke pinggiran semak sambil bawa sikat gigi. Berhubung mulut juga udah ngga enak, gue langsung ambil sikat gigi di tenda, trs jb juga deh. Aneh juga sih rasanya sikat gigi ngga pake odol, tapi mau bagaimana lagi, emang ngga boleh bawa.
selesai masak dan sarapan kita semua packing. sebelum berangkat kita foto-foto indah dulu mumpung backgroundnya keren banget.
kita nerusin perjalanan menuju puncak Gede pukul 10.00 dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam. pepohonan mulai jarang, matahari mulai nyengat diujung ubun-ubun. jalurnya mulai batu dan ada pasir nya gitu putih semacam kapur. sampe akhirnya gue tiba di puncak Gede.
dari sana gue bisa liat kawah yang dipinggirnya dikelilingin sama tebing melipir yang jalannya sempit banget kayak cuman segaris gitu. dan disebelah kiri gue bisa liat Surya Kencana dengan dua warna; ijo sama kuning. Ijo buat pohon-pohonnya dan kuning itu padangnya. kalo ditambah langit jadinya lapis tiga. Biru, Ijo, Kuning. kita pun apel puncak dan foto-foto. kita masak dipuncak, bongkar carriel dan ngisi perut. lagi-lagi dan lagi makanannya indomie. bosen makan indomie anaknya pak asep bawa ciki yea. gue lupa berapa jam kita ada disana setelah foto-foto ria mengharukan gue meneruskan perjalanan menuju Kandang Badak tempat dimana para pendaki ngecamp.
jalur pertama dari puncak Gede itu wuidih ngeri dah. gue melipir pinggir tebing gitu yang banyak batu-batu dan pasir. dari pada jatoh kejurang gue mendingan cari aman lewat tengah yang banyak pasir dan batu. abis melipir mulai masuk hutan lagi. Nah disini nih gue nemuin yang namanya "Tanjakan Setan", buadddai. horror banget gitu ya namanya. beruntunglah gue memulai pendakian dari jalur gunung Putri sehingga saat ketemu tanjakan setan gue malah menuruninya bukan manjat. terjal dan tinggi tanjakanya jadi gue musti make webbing dan tali yang udah disiapin TNGP. yang begonya adalah si tobleng ngetawain mufid gara-gara pas turun ketakutan, mungkin kualat gara2 ngatain kali ya, si mufid ga sengaja nyenggol batu yang runtuh dan runtuhanya cepet gitu jatoh terus nabrak dengkulnya tobleng strike ditengah. sakit. iya tau banget itu sakit banget. batunya lumayan gede coi. gue cuma diem doang ngantri mau turun.
kelar tanjakan setan ya medan nya gitu-gitu aja hutan. sampe deh dikandang badak. kejutan yang menanti adalah ternyata disana ada babab sama gonek udah nunggu cihuy banget dah. dan ternyata babab cuman bawa daypack yang isinya alat masak semua. sempet kena razia sm petugas tp gangerti gimana ceritanya. gue buka camp dan biasa gue ngatur tenda. abis gitu masak, ketawa-ketawa, dengerin dongengan si muka stupid terus makan. evaluasi, kedinginan, tidur. di evaluasi diungkit lagi masalah kemarin, karena ada babab dan gonek yang baru dateng. udah gitu kita rencana summit attack jadi jam 3 harus udah bangun.
malem itu dinginnya ga separah di surken. pas gue mau tidur, genta sm kemal packing dulu buat summit besok. karna besok yang di tuju itu puncak Pangrango kita ga bawa carriel. jalurnya terlalu membahayakan untuk bawa carriel. tp tetep bawa carriel 1 yang lagi dipackingin sama genta. isinya ponco makanan dan alat survival lainnya. udah gitu pas mau tidur banget, tenda dibuka. dingin anjir tapi kasian rei sm hans ga dapet tempat akhirnya yaudah dibuka aja, rei sm hans belum tidur soalnya masakin kita bubur kacang hijau. baiknya:')
besokan paginya dingin banget, jadi tidurnya telat, gue sama yang masak air terus langsung beberes. nyeruput energen sm bubur kacang ijo sekenanya, karna perut harus tetep diisi daripada hipo. terus kita cabut jam setengah 4 kalo nggak salah. ngetrack di pimpin babab. awal-awal tracking si tobleng muntah dan pindah dibelakang. gue tetep di depan. ada enaknya ada enggaknya ternyata kalo tracking malem. enaknya, lo gaperlu ngeliat jalur jadi gatau seberat apa medan nya dan lo jadi ga nengok2 ke atas. ga enaknya, rada bahaya, udah itu doang. perjalanan menuju pangrango itu yang paling berat buat gue. gilak, tanjakannya dua kali kaki. gue musti ngelangkah superduper lebar banget. dan kesel karna ga nyampe-nyampe. matahari udah mulai terang dan kita masih belum sampe. gabisa liat sunrise dipuncak deh jadinya, tapi lumayan bisa liat dari leher gunung. gue udah cape banget itu tapi disemangatin terus sama babab. bibir udah kering-kering. mau minum mau makan tapi minum terus malah bikin boyor. dan akhirnya gua ga minum sampe mijakin kaki di puncak pangrango.
ga ngerti kenapa saat jalan mulai landai dan gue nyadar udah sampe di titik paling atas, babab langsung meluk gue sambil bilang "selamat ya, kita udah sampe di puncak." merinding, gue nangis. gatau padahal waktu di Gede biasa aja ga sampe nangis kayak di Pangrango. dan gue baru sadar ternyata gue sama babab yang nyampe puncak pertama, senang!yea. setengah jam kemudian angkatan guepun lengkap dan kita apel. sambil nyanyi lagu, gue ngeliat kebawah keren banget. gaada hujan langit terang. tadinya mau leha-leha disitu tapi ga pewe dan anginnya dingin banget. kita meneruskan perjalanan yang kurang dari 10 menit menuju tempat favoritnya dan abunya Soe Hok Gie ditebarkan jeng jeng Mandalawangi.
Mandalawangi itu tempat yang paling indah di Pangrango. Mandalawangi itu oadang edelweiss semacam Surken, bedanya, lebih sempit, tapi edelweissnya tinggi-tinggi. disitu ada nisan nya Hok Gie. kita makan dan ngobrol. si amal nyanyi-nyanyi lagu Negeri Di Atas Awan nya Katon Bhagaskara. angin nya bikin masuk angin disana. satu jama atau dua jam kita disana tidur-tiduran terus turun. dan saat turun gue bersyukur banget tadi trackking saat msh gelap karna gue shocked ngeliat jalurnya kyk "anjir jadi ini jalur yang gue laluin tadi pagi?!" yak jalurnya berupa tanjakan yg super duperly tinggi dan pohon tumbang segede gaban. dan saking tingginya, pas gue lagi mau turun, kaki gue ganyampe ke tanah dan akhirnya baju gue nyangkut gitu di batang pohon. jadi gue nge gantung semacam boneka kayu. terus malah diketawain sm seceng tapi dibantuin juga. dan kita turun makan waktu cuma satu jam.
karna masih lama waktunya kita leha-leha. gue beberes tenda dan mufid diajarin bikin nasi uduk. makan siang dengan happy dan langsung packing lagi buat turun ke Cibodas. nah disitu lah gue nggak enak badan. jidat gue panas gitu leher gue anget. sama tobleng disuruh minum panadol. gue rada keliyengan pas tracking turun. tapi tetep jalan. gue ngelewatin banyak pos yang gue gak apal namanya.dan disini jalurnya mulai enak, dan si joddy ngebut banget buset sakit emang tuh orang. gue ditemenin Sari dan sebelum pos panyangcangan, gue ngelewatin air terjun yang panas. ngertigaksih? air terjun, tapi panas, mendidih. gue pun sampai sekarang bingung itu air dari mana asalnya. kuasa Tuhan. dan pas ngelewatin itu jalurnya sempit, dan licin. semacem nyebrangin sungai. bedanya disebelah kanan itu air terjunnya yang panas, disebelah kiri itu jurang. jadi lebih tepatnya gue nyebrang di tengah-tengah air terjun. dan pegangan nya udah rapuh. dan akhirnya karna licin kaki gue nyemplung ke air dan spontan langsung mengucap apa yg keluar dr mulut. apa aja deh. panas banget. itu yang bikin kaki sakit terseok-seok saat turun ke panyangcangan.
nyampe di panyangcangan si tobleng gantian dia yang sakit dan minta obat ke pendaki lain. leyeh-leyeh disana ngobrol terus lanjut lagi ke cibodas. hari udah mulai gelap dan jalur mulai anak tangga. males banget sumpah. gue sama kemal ketinggalan rombongan gara-gara nungguin tobleng yang kecapean. akhirnya kita nerusin perjalannan dan langit udah gelap. nyalain senter. senter gue entah dimana jadi gue barengan sama tobleng. nah ini dia yang bikin gua sama kemal berantem. pas dijalan, tiba-tiba kita papasan sama cewe yang jalannya terseok-seok karna pincang. gue kirain itu demit. amit amit. rambutnya panjang, jalannya pincang make sendal jepit. dan dia hebat banget, ditempat setinggi itu make tanktop:) bahenol gak tuh? nah, begonya malah dideketin sm si tobleng. akhirnya dia ninggalin gua dan gua jadi berbagi senter sama kemal. sepanjang sampe mang idi gua ribut sama kemal gara2nya kaki gua sakit tapi dia minta pengen cepet2 dan senter cuman satu. sementara si tobleng asik godain mbak-mbak dan modus.
dan sampailah gue di Mang idi. disambut sama banyak alumni ternyata, ada aiph, ada mulung ada banyak lagi. terharu gitu diucapin selamat. bau badan udah gakebayang lagi kayak apa. kaki pegel minta di pijet. ngadem dulu akhirnya ngisi perut make teh anget. gakuat lagi gue akhirnya maksain mandi dan keramas sama kak sari gantian.
barulah setelah itu gue ngisi perut make nasi goreng. nikmat banget rasanya cuma nasi goreng doang. di gunung gue gadapet nasi seanget dan seenak ini. abis gitu kita semua evaluasi. dan tidur yiiiiha.
selesai masak dan sarapan kita semua packing. sebelum berangkat kita foto-foto indah dulu mumpung backgroundnya keren banget.
kita nerusin perjalanan menuju puncak Gede pukul 10.00 dengan perjalanan kurang lebih satu setengah jam. pepohonan mulai jarang, matahari mulai nyengat diujung ubun-ubun. jalurnya mulai batu dan ada pasir nya gitu putih semacam kapur. sampe akhirnya gue tiba di puncak Gede.
dari sana gue bisa liat kawah yang dipinggirnya dikelilingin sama tebing melipir yang jalannya sempit banget kayak cuman segaris gitu. dan disebelah kiri gue bisa liat Surya Kencana dengan dua warna; ijo sama kuning. Ijo buat pohon-pohonnya dan kuning itu padangnya. kalo ditambah langit jadinya lapis tiga. Biru, Ijo, Kuning. kita pun apel puncak dan foto-foto. kita masak dipuncak, bongkar carriel dan ngisi perut. lagi-lagi dan lagi makanannya indomie. bosen makan indomie anaknya pak asep bawa ciki yea. gue lupa berapa jam kita ada disana setelah foto-foto ria mengharukan gue meneruskan perjalanan menuju Kandang Badak tempat dimana para pendaki ngecamp.
jalur pertama dari puncak Gede itu wuidih ngeri dah. gue melipir pinggir tebing gitu yang banyak batu-batu dan pasir. dari pada jatoh kejurang gue mendingan cari aman lewat tengah yang banyak pasir dan batu. abis melipir mulai masuk hutan lagi. Nah disini nih gue nemuin yang namanya "Tanjakan Setan", buadddai. horror banget gitu ya namanya. beruntunglah gue memulai pendakian dari jalur gunung Putri sehingga saat ketemu tanjakan setan gue malah menuruninya bukan manjat. terjal dan tinggi tanjakanya jadi gue musti make webbing dan tali yang udah disiapin TNGP. yang begonya adalah si tobleng ngetawain mufid gara-gara pas turun ketakutan, mungkin kualat gara2 ngatain kali ya, si mufid ga sengaja nyenggol batu yang runtuh dan runtuhanya cepet gitu jatoh terus nabrak dengkulnya tobleng strike ditengah. sakit. iya tau banget itu sakit banget. batunya lumayan gede coi. gue cuma diem doang ngantri mau turun.
kelar tanjakan setan ya medan nya gitu-gitu aja hutan. sampe deh dikandang badak. kejutan yang menanti adalah ternyata disana ada babab sama gonek udah nunggu cihuy banget dah. dan ternyata babab cuman bawa daypack yang isinya alat masak semua. sempet kena razia sm petugas tp gangerti gimana ceritanya. gue buka camp dan biasa gue ngatur tenda. abis gitu masak, ketawa-ketawa, dengerin dongengan si muka stupid terus makan. evaluasi, kedinginan, tidur. di evaluasi diungkit lagi masalah kemarin, karena ada babab dan gonek yang baru dateng. udah gitu kita rencana summit attack jadi jam 3 harus udah bangun.
malem itu dinginnya ga separah di surken. pas gue mau tidur, genta sm kemal packing dulu buat summit besok. karna besok yang di tuju itu puncak Pangrango kita ga bawa carriel. jalurnya terlalu membahayakan untuk bawa carriel. tp tetep bawa carriel 1 yang lagi dipackingin sama genta. isinya ponco makanan dan alat survival lainnya. udah gitu pas mau tidur banget, tenda dibuka. dingin anjir tapi kasian rei sm hans ga dapet tempat akhirnya yaudah dibuka aja, rei sm hans belum tidur soalnya masakin kita bubur kacang hijau. baiknya:')
besokan paginya dingin banget, jadi tidurnya telat, gue sama yang masak air terus langsung beberes. nyeruput energen sm bubur kacang ijo sekenanya, karna perut harus tetep diisi daripada hipo. terus kita cabut jam setengah 4 kalo nggak salah. ngetrack di pimpin babab. awal-awal tracking si tobleng muntah dan pindah dibelakang. gue tetep di depan. ada enaknya ada enggaknya ternyata kalo tracking malem. enaknya, lo gaperlu ngeliat jalur jadi gatau seberat apa medan nya dan lo jadi ga nengok2 ke atas. ga enaknya, rada bahaya, udah itu doang. perjalanan menuju pangrango itu yang paling berat buat gue. gilak, tanjakannya dua kali kaki. gue musti ngelangkah superduper lebar banget. dan kesel karna ga nyampe-nyampe. matahari udah mulai terang dan kita masih belum sampe. gabisa liat sunrise dipuncak deh jadinya, tapi lumayan bisa liat dari leher gunung. gue udah cape banget itu tapi disemangatin terus sama babab. bibir udah kering-kering. mau minum mau makan tapi minum terus malah bikin boyor. dan akhirnya gua ga minum sampe mijakin kaki di puncak pangrango.
ga ngerti kenapa saat jalan mulai landai dan gue nyadar udah sampe di titik paling atas, babab langsung meluk gue sambil bilang "selamat ya, kita udah sampe di puncak." merinding, gue nangis. gatau padahal waktu di Gede biasa aja ga sampe nangis kayak di Pangrango. dan gue baru sadar ternyata gue sama babab yang nyampe puncak pertama, senang!yea. setengah jam kemudian angkatan guepun lengkap dan kita apel. sambil nyanyi lagu, gue ngeliat kebawah keren banget. gaada hujan langit terang. tadinya mau leha-leha disitu tapi ga pewe dan anginnya dingin banget. kita meneruskan perjalanan yang kurang dari 10 menit menuju tempat favoritnya dan abunya Soe Hok Gie ditebarkan jeng jeng Mandalawangi.
Mandalawangi itu tempat yang paling indah di Pangrango. Mandalawangi itu oadang edelweiss semacam Surken, bedanya, lebih sempit, tapi edelweissnya tinggi-tinggi. disitu ada nisan nya Hok Gie. kita makan dan ngobrol. si amal nyanyi-nyanyi lagu Negeri Di Atas Awan nya Katon Bhagaskara. angin nya bikin masuk angin disana. satu jama atau dua jam kita disana tidur-tiduran terus turun. dan saat turun gue bersyukur banget tadi trackking saat msh gelap karna gue shocked ngeliat jalurnya kyk "anjir jadi ini jalur yang gue laluin tadi pagi?!" yak jalurnya berupa tanjakan yg super duperly tinggi dan pohon tumbang segede gaban. dan saking tingginya, pas gue lagi mau turun, kaki gue ganyampe ke tanah dan akhirnya baju gue nyangkut gitu di batang pohon. jadi gue nge gantung semacam boneka kayu. terus malah diketawain sm seceng tapi dibantuin juga. dan kita turun makan waktu cuma satu jam.
karna masih lama waktunya kita leha-leha. gue beberes tenda dan mufid diajarin bikin nasi uduk. makan siang dengan happy dan langsung packing lagi buat turun ke Cibodas. nah disitu lah gue nggak enak badan. jidat gue panas gitu leher gue anget. sama tobleng disuruh minum panadol. gue rada keliyengan pas tracking turun. tapi tetep jalan. gue ngelewatin banyak pos yang gue gak apal namanya.dan disini jalurnya mulai enak, dan si joddy ngebut banget buset sakit emang tuh orang. gue ditemenin Sari dan sebelum pos panyangcangan, gue ngelewatin air terjun yang panas. ngertigaksih? air terjun, tapi panas, mendidih. gue pun sampai sekarang bingung itu air dari mana asalnya. kuasa Tuhan. dan pas ngelewatin itu jalurnya sempit, dan licin. semacem nyebrangin sungai. bedanya disebelah kanan itu air terjunnya yang panas, disebelah kiri itu jurang. jadi lebih tepatnya gue nyebrang di tengah-tengah air terjun. dan pegangan nya udah rapuh. dan akhirnya karna licin kaki gue nyemplung ke air dan spontan langsung mengucap apa yg keluar dr mulut. apa aja deh. panas banget. itu yang bikin kaki sakit terseok-seok saat turun ke panyangcangan.
nyampe di panyangcangan si tobleng gantian dia yang sakit dan minta obat ke pendaki lain. leyeh-leyeh disana ngobrol terus lanjut lagi ke cibodas. hari udah mulai gelap dan jalur mulai anak tangga. males banget sumpah. gue sama kemal ketinggalan rombongan gara-gara nungguin tobleng yang kecapean. akhirnya kita nerusin perjalannan dan langit udah gelap. nyalain senter. senter gue entah dimana jadi gue barengan sama tobleng. nah ini dia yang bikin gua sama kemal berantem. pas dijalan, tiba-tiba kita papasan sama cewe yang jalannya terseok-seok karna pincang. gue kirain itu demit. amit amit. rambutnya panjang, jalannya pincang make sendal jepit. dan dia hebat banget, ditempat setinggi itu make tanktop:) bahenol gak tuh? nah, begonya malah dideketin sm si tobleng. akhirnya dia ninggalin gua dan gua jadi berbagi senter sama kemal. sepanjang sampe mang idi gua ribut sama kemal gara2nya kaki gua sakit tapi dia minta pengen cepet2 dan senter cuman satu. sementara si tobleng asik godain mbak-mbak dan modus.
dan sampailah gue di Mang idi. disambut sama banyak alumni ternyata, ada aiph, ada mulung ada banyak lagi. terharu gitu diucapin selamat. bau badan udah gakebayang lagi kayak apa. kaki pegel minta di pijet. ngadem dulu akhirnya ngisi perut make teh anget. gakuat lagi gue akhirnya maksain mandi dan keramas sama kak sari gantian.
barulah setelah itu gue ngisi perut make nasi goreng. nikmat banget rasanya cuma nasi goreng doang. di gunung gue gadapet nasi seanget dan seenak ini. abis gitu kita semua evaluasi. dan tidur yiiiiha.
Labels:
Indonesia,
Moonpala,
travelling
Subscribe to:
Posts (Atom)

































