Showing posts with label thought. Show all posts
Showing posts with label thought. Show all posts

Thursday, April 04, 2013

Antara lagu, film, travelling dan Indonesia.

Indonesia itu surganya para traveller. percaya?
33 provinsi. ribuan pulau. beragam budaya. bermacam suku. mau gunung? banyak yang menjulang tinggi. mau pantai? ribuan pantai tersohor di pasir kita. mau orang-orang yang ramah? terhampar dari ujung sabang sampai merauke. tinggal dicari aja.

Jakarta

ngomongin soal Indonesia gak lepas dari ibu kota nya, Jakarta. gajauh dari Jakarta berati gajauh dari kemacetan. tapi nun jauh dari penatnya ribuan klakson dan polusi di Ibu kota, banyak banget harta karun yang tersembunyi di tanah kita. dan mereka yang melakukan perjalanan, otomatis naik setingkat menjadi lebih filosofis. agree? korelasi yang gue buat disini adalah bagaimana negeri kita ini bisa menginspirasi para musisi dan film maker serta apapun dibidang art & entertainment. gak jarang dari mereka (para musisi berkualitas) di Indonesia membuat hasil karyanya berdasarkan hal-hal yang mereka lalui dan kunjungi. dan secara nggak langsung memamerkan bangsa nya sendiri.


dan seperti biasa indonesianisme gue suka kumat kalo udah ngomongin soal wisata domestik disini. entah dari telusur pinggiran kota, entah dari pinggir tebing sebuah kawah, entah dari produktifnya sebuah pasar tradisional di kaki gunung, atau tingginya ombak saat nyebrang pulau pake kapal nelayan.
udah tiga bulan full ini gue terjebak didalam lingkaran setan penuh lobang dan debu muncul. setiap minggu selalu jadi korban ngasalnya angkutan umum yg ngetem sembarangan. and the main reason why gue nulis ginian secara langsung menggambarkan kerinduan gue melakukan sebuah perjalanan. pengennya keluar dari Jakarta untuk sementera. mata udah bosen mandang ketidak adilan lampu merah, pelipis udah bosen kejebak macet keringetan, dan kaki udah males nginjek aspal yang rompal-rompal. ni hati udah keki dari berapa hari kagabisa kompromi sama mood yang lagi pengen gendong daypack.
pengen rasanya punya villa kecil diujung bukit, supaya kalo lagi cape punya tempat netralisasi. lengkap deh. sepi, adem, tenang, bisa liat citylight, bisa liat bintang dan yang paling penting ke luar kota.
atau sekedar naik kereta api, liat sunset sawah belakang rumah, liat kerbau, nemenin pa'le giring kambing. mainan sama penduduk sekitar, sesepele main layang-layang, congklak atau cari bekicot. ya, emang itu sih yang sering gue lakuin dulu kalau pulang kampung. rame-rame main gobak sodor atau muter keliling kampung naik sepeda ontel. kadang-kadang bantu motongin kelapa, bikin ketupat sama nyari kerang di pantai. 

kerinduan gue ini ditemenin sama sebuah lagu berjudul 1 Hari Yang Cerah sung by Budi DoReMi (gak ngerti kenapa harus gede-kecil) yg lagi jd top list gue.

 
contoh salah satu musisi yang terinspirasi dari indahnya bumi khatulistiwa. adalah sebuah film berjudul 3 hari untuk selamanya yang gak pernah bosen diputer berapa kali, apalagi soundtracknya. lagu-lagu bertemakan travelling gini yang bikin arti dari trip lo semakin keliatan kalo didengerin di tkp dan paham maknanya.

Float merupakan satu dari sekian musisi yang bisa memaknai perjalanannya dengan menuangkanya ke dalam sebuah lagu. monggo di pasang earphone nya...


klik-buffer-nikmati


gue harap rencana next few week nggak berubah, tapi kalo ternyata berubah #nowplaying ♫yasudahlah~
dan gue berharap lagi, si bondan ngga ikutan nyanyi numpang promosi diatas penderitaan gue. 


kebayang kan, kalo film tuh selalu punya soundtrack yang menjual. terutama saat bikin trailer. karena cuma film bagus yang bisa bikin penontonnya mupeng pas nonton trailer karna liat kesinambungan gambar dan lagu yang pas. dan di setiap perjalanan, setiap orang punya soundtracknya masing-masing



intinya, empat objek ini; lagu, film, travelling dan Indonesia. empat hal yang kalau dipadukan jadi satu itu bisa ngebawa gue untuk sadar kalo Indonesia tuh gak kalah berharga nya dari tokyo tower atau menara pisa.

mungkin sebentar lagi gue akan meledak ngestalk foto-foto di blog-blognya traveller. kecangkan ikat pinggang dulu sebelum direalisasiin. sampai skg gue masih mencari siluman yang beranak duit. doain bisa ketemu. amin.

yuk mantai yuk......

Friday, November 30, 2012

i said "no, i won't cheat."

soooo akhir-akhir ini bener2 busy rough week. hectic, tugas banyak banget, drama & dance barengan, ulangan menanti minggu depan, materi pelajaran makin susah, dan oracle2 ini (lpj-blanko) itu sangat mengganggu. nggak kerasa banget bentar lagi desember, holy month, dimana awal bulannya begitu indah, yap, ujian semester. another bad stuff will be; gue absen pertama, duduk paling depan. rasanya mau pindah kelas aja biar nggak absen satu. kalo adrian sih absen satu makes no sense, ketauan pinter lah gue gimana apalagi jepang. mau nihil apa nilai gue.

as one of human with religion, i consider my self as org yang alim dan berusaha untuk nggak mau nyontek. tapi apa daya gue gakbisa dan ujung-ujungnya gue butuh nilai gue untuk bagus dan mau gak mau harus minta jawaban temen. jadiiii fix gue bingung. tp gue akan coba untuk gak nyontek. Indonesia for a better future, yea.

Thursday, September 20, 2012

Literary Interpretation

Entah sejak kapan gue mulai jatuh cinta pada sastra. Dan sangat bisa dirasakan sastra bayak merubah hidup gue.

Gue seharusnya doing this not that, cause girls do this and dont do that. emangnya salah ya kalo mau jadi diri sendiri? Aneh rasanya emang, kalo lagi berada di toko buku, dan melihat kebanyakan remaja yang mostly berada di rak novel remaja tapi gue malah tetap berjalan tegak lurus melawan arus mencari papan bertuliskan 'Sastra'.

Berambang pada ombak Sastra sama saja berada di dunia jurnalistik. Sastra memang berengaruh besar dalam hidup gue. Dari yang sebelumnya yang gue gabisa sampein apa yg mau gue sampein dengan baik dan benar sampai mencari penengah problematika yang muncul di hidup gue, serta beberapa golden ways yang menyadarkan gue untuk merubah cara pandang gue. Walaupun begitu gue tetap suka membaca novel remaja yang isinya ironisme cinta klasik. Tapi gue akan lebih suka fiksi yang bertema politikus demokrasi sampai cerita kompleks. Tergantung brain mood gue yang sedang ingin dicerna nya. Keduanya berimbang gitu.

Bottom line, jujur aja, gue jatuh cinta. Gue jatuh cinta luar biasa sama kata-kata puitis. Kata-kata cantik. Whether in English or Indonesia. Buat gue sebuah apresiasi besar untuk seseorang yang mampu membentuk paduan kalimat yang dengan membaca dpt langsung beradaptasi. Buat gue, org seperti itu hebat.

Effortnya, lo bisa jadi lebih cermat dalam menangani segala masalah, karena dengan membaca sebuah karya sastra lo diberikan lebih dari satu sisi kehidupan dan gambaran suatu hal.
Minus nya terkadang puitisi membentuk pribadi lo yang overmellow kalo lo ngga bisa guide your principal. Typical yang menginginkan hidup fana yang fiction method. Yang ada di cerita. Tapi buat gue, semua itu akhirnya membentuk satu perpaduan yang bagus.

Kadang gue ingin seperti cerita roman yang gue baca. Kadang juga dari bacaan berat gue, gue tersadar untuk belajar menjadi cewek yang though. Keduanya membuat gue berdiri ditengah-tengah sehingga semuanya menjadi balance. Nggak over mellow, nggak super strong juga.

Gue suka bermain dengan kata-kata dan kalimat-kalimat. Mengotak-atik, memadukan, membentuk kalimat-kalimat sederhana menjadi rapi, indah, dan berkesan. Literature is the greatest masterpiece God ever created inside the art of humanity. And somehow i'm dying in love with it.

Saturday, September 08, 2012

Gue, dan Stasiun Kereta di Malam Hari


Sebenernya alesan terkuat kenapa gue sering ikut ngejemput nyokap kalo balik dari luar kota adalah simple; gue selalu suka stasiun kereta di malam hari. Gue juga kurang ngerti ya apa menariknya. Tapi gue suka aja suasana bandara/stasiun di pagi buta. Sama seperti gue menyukai perjalanan malam.

Dulu, ketika gue masih duduk di sekolah dasar. Gue sering mudik ke kampung menggunakan transportasi besi merayap macem cicak ini. Biasanya gue berdua bokap, sementara tiga anggota keluarga gue yang lain berangkat duluan pagi-pagi naik mobil bersama almarhum kakek gue.

Biasanya dulu, tengah malem, gue dengan menenteng tas ransel kecil duduk di pojokan Dunkin Donuts stasiun Gambir yang sampai sekarang ini bentuknya udah berubah-ubah. Gue selalu pilih donat favorit gue yang warnanya item tengahnya ada putih-putihnya, kagak tau dah namanya apaan. Yang jelas jaman dulu J.co belum terlalu ngeksis dan booming, dan memang belum ada di Gambir. Sementara gue nyeruput coklat, bokap ngebolak-balik majalah otomotif yang dia beli. Anyway gue dulu bener-bener nggak ngerti sm majalah otomotif yang gue kira isinya cuma sekrup, mur dsbg. Begitu juga dengan majalah baru gue, karena kami selalu ngorekin toko buku di stasiun. Dengan berselimutkan jaket merah hello kitty terikat di pinggang, gue menikmati bacaan gue sampai bokap manggil gue untuk segera naik ke atas, peron kereta namanya.

Banyak orang duduk-duduk di peron tentu saja. Mereka menenteng koper-koper besarnya, ada juga yang menggotong kardus-kardus yang entah gue nggak ngerti isinya apaan. Ada yang duduk-duduk santai di kursi, bercengkrama dengan kerabat ataupun orang tuanya. Ada yang dengan tenang menganggung komat-kamit mengikuti alunan lagu yang didengarnya menggunakan headset. Ada juga yang boklak-balik koran yang kayaknya sih udah basi macem nasi aking. Beritanya nyampe garing diliat-liat doang. Ada juga yang autis sendiri mainin hape. Ada yang lagi nelfon, ada yang mimiknya sedang panik bertanya sama mas-mas office boy peron. Ada yang pakai jas rapi, ada yang kayak udah mau muncak everest make jaket tebel banget. Ada yang cuma pakai hotpants + tanktop. Ada yang akai kaus beragam sampai ke dress santai. Lengkap, semua ada.

Gue selalu suka memperhatikan situasi kapanpun dan dimanapun termasuk pada hiruk-pikuk seperti pasar. Memperhatikan keadaan manusia-manusia berbeda yang datang dari asal dan dengan alasan yang juga berbeda-beda. Membuat analisis gue bergerak dalam diam dan menumbuhkan argumentasi baru yang bisa gue aktualisasikan pada diri gue sendiri. Didalam lembar yang tenang, gue suka merenung. Membiarkan imajinasi liar dan buas gue mencakar pemikiran gue. Sampai gue mengantuk dan menyimpan nya kembali dalam-dalam.

Sunday, March 11, 2012

Saat seragam putih abu-abu mendominasi. Hari-hari yang dimulai dengan kejamnya orientasi, lalu perkenalan, lalu persahabatan, lalu kenangan.

GOD.
Kenapa begitu banyak manusia di bumi yang jago merangkai kata. Demi penguasa bumi dan surga, mereka semua FIX KEREN. Entah darimana bisa dapet inspirasi gak-terpikirkan bahkan kadang unreasonable. Nemu aja gitu ide-ide brilliant-nya.

Yang bikin gak habis pikir adalah hasilnya. Ngerangkai ribuan kata with only around thirty-five-thousand-rupiahs doang. Bold-underline-italic buat kata 'doang'. Walaupun sebenernya, dengan ribuan eksemplar yang tercetak, satu buku bisa merubah seorang menjadi jutawan. Tapi bagus deh harusnya emang gitu labelnya, low price and high quality. 

Ada yang salahkah kalo gue ngebet banget pengen jadi salah satu dari mereka?

Monday, February 27, 2012

Ya?

Gue sadar 1000% gue tidak boleh egois. Gue pernah merasakan apa yang dia rasakan--mungkin--kalau ternyata memang itu alasanya.

Semua mahluk hidup selalu memasuki fase-fase baru yang berbeda. Menapakan kakinya pada sebuah undakan tangga yang baru. Semakin tinggi semakin keatas. Menuju pada tahapan yang lebih baik meninggalkan yang diperbaiki, dibelakang sana.

Gue tidak bisa menyalahi siapapun. Dan gue memang tidak menyalahi siapapun, begitu juga takdir. Bagaimana bisa menyalahi satu kodrat ekosistem yang memang telah ditakdirkan untuk saling keterkaitan dan membentuk populasi dan habitatnya sendiri.
Semua manusia punya standart kualitas zona aman dan nyaman yang mereka ciptakan sendiri. Bukan aneh memandangnya, tetapi memang salah satu hak asasi manusia.

Bukan kali pertama hal seperti ini terjadi pada diri gue. Berkali-kali.
Gue seperti berada di sudut lampu merah. Di atas trotoar dua warna. Bergeming melihat lalu-lalang.
Bagi gue pemandangan ini tidak asing. Ingat pada Garis-garis? Well, garis-garis itu kembali bergelombang.

Pada kenyataanya yang memang pahit, gue harus bisa mengakui dan menerima bahwa semua orang bisa berubah. Menerima dengan lapang dada memang bukan berarti jalan keluar yang paling tepat. Bahkan tidak juga mudah. Tapi gue yakin suatu saat jalan keluar yang tepat itu akan datang. Dan gue tinggal menunggunya. Meyakinkan diri sendiri bahwa sebuah kesabaran tidak akan berujung pada kekecewaan.

Monday, February 20, 2012

Problematika abad 20

Blackberry Messanger.
Satu fasilitas baru yang super helping people berkomunikasi di era mode masa kini.
Kerjaan, tugas, informasi semua dikerjakan dengan baik atas nama dunia maya.
Anehnya. Lambat laun, gue mulai bosan. Dunia maya memang gue akui membawa banyak sisi positif. Tapi sisi negatifnya juga tidak sedikit.


Dunia maya membentuk pribadi seseorang.
Dunia maya merubah pribadi seseorang.
Dengan chatting apapun bisa dicapai. Minta tolong ini itu ke pembantu contohnya, gak perlu repot-repot napakin kaki. 


Nyatain cinta, modus-modus lewat bbm ayuk aja.
Sok jagoan di twitter bacot sana sini semakin menginfeksi abg labil.
Yang akhirnya menimbulkan perkara baru;
Cowok tidak lagi banyak yang Gentle. Semua aktivitas dilakukan lewat chatting.
Bahkan yang bikin otak gue mulai kebalik keheranan adalah, jaman sekarang, ada aja orang yang jadian tapi belum pernah bertemu sebelumnya dan hanya berkomunikasi melalui-apalagi kalo bukan;
bbm.
Strike.


Awalnya gue menikmati jalanya perkembangan teknologi di dunia, tapi lama kelamaan, gue ngerasa kurang memiliki momen-momen indah yang seharusnya dilakukan secara langsung. Bukan hanya chatting atau twitter.
Alesan gue ya klasik; bosen, man. Cuma itu.
Sekarang orang normal dan autis tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Karena sekarang, seorang normal bisa mirip bahkan persis seorang autis. 


Pemandangan yang cukup bikin mau nonjok adalah dimana lo sedang asik hangout bareng temen2 lo dan yang lo liat dalam jarak waktu luang beberapa menit mereka semua menggenggam benda kecil-yang tapi pengaruhnya lebih dari besar- bernamakan; blackberry.
Semua sibuk mencet-mencet keypad, mandangin layar ponsel atau ngescroll trackball sekedar buka-buka recent updates. 
Haruskah dilakukan itu? Harus banget kah ngecekin recent updates setiap menit? Seperti gak ada hal yang lebih berharga aja.


Gue akuin ngecekin recent updates memang sebenernya seru apalagi ngebantu banget kalo lagi nervous. tapi kondisi yang lagi gue singgung kali ini bukan hanya perkara hangout ke sekadar mall atau cafe. Gimana kalo berlibur ke puncak? Anyer? Atau bali? Atau tempat-tempat yang jarang dikunjungi, yang seharusnya kita bisa nikmatin alam dan udara segar di bandingkan ngecekin recent updates setiap menit.


Kadang gue mengharapkan segala hidup gue masih polos, naif, dan sederhana seperti apa yang ada di buku ataupun film. Mereka bertindak direct, bukan cuma lewat chatting atau smsan. 


Well, hal yang tadinya ingin gue bahas sebenarnya tidak sampai ke tahap barusan.
Tapi apa daya kebetulan lidah tidak bertulang, otak tidak berujung dan jari-jari gue belum kesemutan. Selama kondisi gue masih normal dan sehat, selama itu juga gue akan tetap menulis.
Beberapa yang gue sampaikan diatas hanya sekelumit dari pengalaman-pengalaman semata pribadi gue. 
Intinya.
Gue jenuh dengan aktivitas dunia maya. Mau menjauhkanya pun, gue rasa sulit. Tuntutan keadaan. Gue ga mau gambling juga.


Kalo mau ngomong sama gue ya temuin gue langsung, datengin gue. Jangan cuman bisa omong dan hilang diujung lidah.
Karena sejujurnya, gue mengharapkan tindakan lebih dr sekedar kata.

Friday, January 27, 2012

The line between humanization.

Mungkin selama ini jabaran arti manusia kaya adalah seorang manusia yang kaya akan materi.
Punya rumah yang besar, pakai baju bermerk ternama, punya mobil yang banyak dan pakai handphone mahal.

Kalo tiba tiba terdapat sebuah pertanyaan "Lebih kaya manakah diantara mereka?" dengan dihadapi oleh dua perbandingan kondisi yang bertolak belakang;
1. Manusia yang tinggal dirumah mewah dengan keluarga yang rusak, atau
2. Manusia yang tinggal di gubuk dengan tradisi makan bersama setiap malah meski hanya sebungkus nasi.

Maka dengan waktu kurang dari lima detik, gue mungkin bakal reflek jawab yang nomor 2.
Manusia kaya bukan didasari dari hal primer. Standart manusia kaya bukan hanya dilihat dari kualitas sandang, pangan atau pun papan nya.
Apa arti dari sebuah rumah mewah tanpa kebahagiaan. Sepi. Seperti nonton film yang gak laku di mal buluk. Seperti catur tanpa ster. Kayak ada yang kurang.

Tapi nyatanya standart itu muncul sendiri dikalangan banyak manusia masa kini. Secara gak langsung mereka punya tingkat batasan perbedaan yang mereka bikin sendiri. Batasan orang kaya dan orang gakpunya. Batasan anakgaul & gak gaul. Batasan elite dan kampung.
Rasis. Orang kulit putih & kulit gak putih. Orang rambut bagus & rusak. Orang beragama ini & beragama itu. Orang yang tinggal disini & disitu. Orang yang hapenya bb & nokia. Orang yang kerudungan & yang gak kerudungan. Orang yang sukunya ini & itu. Orang yang sekolahnya di swasta & negri. Sampe ke orang yang followers twitternya segini & segitu, demi sebuah kepopuleran.

Lucu gaksih. Iya lucu banget. Saking lucunya orang yang ngebeda-bedain itu keliatan banget gak-inteleknya.
Yang nerd diolok-olok. Yang cacat di intimidasi. Yang populer merajalela, bebas ngomong apaa yang mereka suka tanpa mikirin perasaan yang lain.

Apa kalian sudah merasa sempurna sehingga perlu mempermalukan orang lain? Kalian tau, gak seorangpun manusia yang berhak mempermalukan orang lain di depan umum.

"Orang gak bisa milih siapa bapaknya, ibunya, sukunya, warna kulitnya, jenis kelamin bahkan kadang-kadang agamanya. Jadi konyolkalo gue ngejauhin orang gara2 sesuatu yang gakbisa mereka pilih sendiri. Kaya orang bego aja"

So what's the point of being so damn highbrow?

Saturday, December 31, 2011

Postingan Akhir Tahun


2011 hampir abis.
I honestly loathed for this one to be happening. 2011 itu tahun gue. 2011 itu tahun kejayaan gue. 2011 itu tahunya kebebasan. Tahunya gigi & jidat. Tahunya lirik sana-lirik sini. Tahunya deket sama siapa aja. Tahunya gue banget pokoknya.

Kaya yang gue baca dari Raditya Dika. Bener banget. Setiap kita ninggalin sesuatu pasti flashback memori awal dimana kita memulai sesuatu itu akan muncul dengan sendirinya. Awal perjalanan gue di tahun 2011. Gue inget. Gue inget semuanya.

Gue inget betapa hina nya gue di awal tahun. Jadi manusia super galau alay setangerang selatan gara2 baru putus. Hina. Gue inget betapa begonya gue waktu itu,  gue berubah menjadi kalong dan masuk pada perkumpulan WIG. Waktu Indonesia Bagian Galau. tapi gue juga inget gimana rasanya euforia hampir setiap hari waktu itu.  Akhir dari penggalauan gue. 3 bulan setelah tahun berganti menjadi 2011. Dan disitulah gue mulai memasuki era kebebasan gue. Gue menemukan kebahagiaan gue yang berlangsung sampai sekarang. Sampai 2011 berakhir.

Entah kenapa gue ngerasa tahun ini tahun paling berkesan bagi gue. Rasanya kayak lo punya sebuah keluarga baru. Aktivitas baru yang gakpernah bakal bosen. Gue mencoba dan belajar banyak hal di tahun ini. Sedihnya perpisahan, senengnya bareng temen-temen. Semua keinget lagi. Detail.

Setelah gue memasuki era kebebasan, hidup gue mulai dipenuhi dengan sibuknya belajar mengejar materi buat UN. Emangsih, nilai gue turun drastis semenjak gue kenal yang namanya pacaran. Buka buku jarang, buka inbox setiap menit. Trs kayanya gue dapet ilham gitu, pencerahan rohani. Gue harus lulus UN, gue harus naik kelas. Akhirnya gue mulai optimis serius di bimbel. Di bimbel doang, kalo di sekolah mah sering banget cabut pelajaran. Ya maap2 aja yak gurunya ga bener. Buku latihan soal UN numpuk, buku PM numpuk. Gue emang telat baru ngejar sekarang tapi apa salahnya. Langsung deh hampir tiap hari gue ngerjain soal2 gituan mulu sampe muntah. Gue juga inget jaman2nya sabtu masuk buat PM. Harinya gue curi-curi pandang(!!!). Jaman2nya sekelas sama Pepi Omay terkutuk. Jaman2nya TO jadi makanan setiap minggu. Jaman2nya gue ngerasa mau mati kecapekan.

Akhirnya, tanggal yg dinanti2pun dateng. Dan jeng jeng gua UN. Gue sekelas sama anak 97. Nopal super, Shella sampe ke Levito yang friggin' freak. Semua berjalan lancar. Udah dari seminggu sebelum UN gue berusaha untuk tidur cukup. No bocoran. Bersih. Dan gak kerasa 4hari laknat itu berlalu begitu cepat. Dan hari liburnya 9 graders....are begin.

Libur duluan salah satu hal yang indah. Adek-adek kelas masih sibuk belajar kita udahan indah bgt emang. Tiap hari kerjaan gua kesekolah berapa jam terus cabut maen kerumah temen. Dan itu selalu. Berhubung gue udah ga naik jemputan lagi dan gue harus pulang sendiri karena kalo dijemput itu berarti gue gabisa main dan pulang kapan aja dengan bebas, mulailah gua bersahabat dengan angkot dan ojek2 alfamart. Temen pulang gue juga itu-itu aja; Nabil Oca Kesyad Tidar Tara.

Tiba sampai akhirnya Graduation Party di sebuah Wisma di Puspitek. Hari itu semua anak pake kebaya & jas. Sedih sekaligus seneng. Dan kaya raditya blg diatas, setiap ending pasti ke flashback memori-memori awal. Keinget senengnya waktu keterima di Moonzher, Keinget sedihnya udah jauh2 tes di Labsky tp gaketerima. Keinget Jogja. Keinget foto BTS yg sampe harus dua kali karna yang pertama dinyatakan gagal. Keinget bikin film buat bahasa inggris; Robin Hood. Keinget modern vs traditional dance buat Culture Art. Ngeband sama band nya Tidar, Ngeband sama Pixelate buat tampil di Graduation Party yang latian nya dirumah si Orang Kaya. Sampe gue inget waktu tes di SMA yg sekarang jadi SMA gue, gue kenalan sm Havif; cowok yg diidolain Bila Nadya Andin yang ternyata skrg jadi pacarnya temen gue. Gue inget karaoke sama metsa beqi. Gue inget ulang tahun Angel. Gue inget narsis gajelas dirumah Andin sama Nabil bertiga. Kemana2 bertiga. Temen2 seperjuangan UN gue di bimbel. Gue inget dan gabakal pernah lupa.

Seragam putih-biru pun mulai di masukin kardus. Gak lupa juga rompinya yang super imut. Real holiday hampir sebulan yang menurut gue agak terkutuk tapi indah. Disini. Gue ngerasain timing yang bener2 timing gue sama sahabat2 gue banget. DVD marathon, ke Anyer bareng SNAPS, Barbeque 98 dirumah Ocil, kerumah bakyong bikin kado buat ocil. Gue juga inget waktu liburan gue pertamakalinya jalan berdua sm sahabat cowo gue, nonton, fotobox, had a quality time together dan walaupun setelah itu pulangnya nabrak dulu. terus pamer sama Andin. Dan dia sirik.

Putih-Abu2 ternyata ga sekeren yang gue bayangin. Putih-abu2 itu neraka. MOS, LDKS, nilai ulangan yang gapernah lulus. Dapet nilai 10, bukan 100. Nyeseknya yarobi sampe ke palung bumi. Adaptasi itu gak mudah. Lumayan banyak yang bikin gue stress masuk SMA. Semua emang gituya, semua harus di recycle. Dapet yang baru tapi yang lama ilang. Pengaruh lingkungan dan orang-orang baru. Gue masih gabecus ngatur waktu. Rapot gue ga memuaskan. Bimbel yg gue lanjutin juga ga keliatan hasilnya, semua kayak meaningless. Kesannya kayak, gue mengahmbur2kan uang dan ga gue manfaatin. Lagian sebenernya gue masuk bimbel cuma karena potongan 600ribu bagi anak lama yang ngelanjutin.

Gue ngerasa, sejak gue make rok abu2, hidup gue miserable bgt. Tapi lucu gaksih, sepanjang miserable itu, ada aja kebahagiaan yg diselipin. David Archie, Java Soulnation Festival, Subtitle, my blast birthday. Super blast. Big present and i love it like a lot as much as i love them who surprisedly gave it to me.

Walaupun 2011 banyak dukanya, tp kalo diliat lagi, presesntase dukanya lebih kecil daripada sukanya. dan gue super grateful banget atas apa yg Tuhan kasih buat gue di tahun ini. Dia buat perjalanan hidup gue bersinar, walaupun terkadang redup, tapi buat gue ini udah lebih dari cukup.

2011 super duar. 2011 itu bagi gue fireworks. Meledak-ledak. Kalo dipegang sakit kalo dipandang mata indah. Tahun ini banyak fireworks yang gue pegang, alhasil gue luka. Mungkin seharusnya gausah gue pegang, gue biarin aja lepas keatas. Biar semua orang bisa liat. Fireworks gue bersinar paling terang.