Sunday, March 11, 2012
GOD.
Kenapa begitu banyak manusia di bumi yang jago merangkai kata. Demi penguasa bumi dan surga, mereka semua FIX KEREN. Entah darimana bisa dapet inspirasi gak-terpikirkan bahkan kadang unreasonable. Nemu aja gitu ide-ide brilliant-nya.
Yang bikin gak habis pikir adalah hasilnya. Ngerangkai ribuan kata with only around thirty-five-thousand-rupiahs doang. Bold-underline-italic buat kata 'doang'. Walaupun sebenernya, dengan ribuan eksemplar yang tercetak, satu buku bisa merubah seorang menjadi jutawan. Tapi bagus deh harusnya emang gitu labelnya, low price and high quality.
Ada yang salahkah kalo gue ngebet banget pengen jadi salah satu dari mereka?
Kenapa begitu banyak manusia di bumi yang jago merangkai kata. Demi penguasa bumi dan surga, mereka semua FIX KEREN. Entah darimana bisa dapet inspirasi gak-terpikirkan bahkan kadang unreasonable. Nemu aja gitu ide-ide brilliant-nya.
Yang bikin gak habis pikir adalah hasilnya. Ngerangkai ribuan kata with only around thirty-five-thousand-rupiahs doang. Bold-underline-italic buat kata 'doang'. Walaupun sebenernya, dengan ribuan eksemplar yang tercetak, satu buku bisa merubah seorang menjadi jutawan. Tapi bagus deh harusnya emang gitu labelnya, low price and high quality.
Ada yang salahkah kalo gue ngebet banget pengen jadi salah satu dari mereka?
Labels:
literature,
thought
Thursday, March 08, 2012
hujan di pelataran
Suasana pelataran depan sekolah ramai sekali, apalagi jika hujan. Dari depan pintu kelas aku sering melihat payung-payung yang beraneka motif. Macam-macam. Mulai dari yg bentuk bebek, bertotol hitam putih, bergaris-garis atau polos dengan warna mencolok.
Terkadang, mengamati payung-payung itu mengasyikan. Aku melihat payung itu seperti menari-nari di bawah hujan. Warna nya yang beragam dipadukan dengan tinggi payung-payung itu yang tidak sejajar karena tinggi pemiliknya yang berbeda-beda. Payung-payung itu seperti membentuk suatu koreo yang indah. Memiliki formasi yang sealun dengan ritme hujan. Bergerak kesana-kemari menjabat tangan manusia dibawahnya. Berjalan-jalan disekitar gerbang sampai mengucapkan perpisahan di ujung pintu mobil untuk kembali pulang. Unik.
(Tangan Kanan Langit by Annisa Rahma Putriana, 2012)
Labels:
literature
Saturday, March 03, 2012
Seekor ikan yang masih muda berputar-putar, berenang berhari-hari. Ia terobsesi mencari lautan. Ia ingin sampai dan merasakan enaknya lautan. Katanya lautan itu enak. Katanya lautan itu tempat terindah untuk ditinggali. Makanya, ia tidak segan berjuang habis habisan.
Dan suatu saat, ditemukanya seekor ikan yang lebih besar darinya.
Maka bertanyalah ia pada ikan itu.
"Tahukah kamu jalan ke lautan?"
Ikan besar itu tertawa.
"Bukankah kamu sedang berada dilautan?"
(Dan Hujanpun Berhenti by Farida Susanty, 2010)
Labels:
goodreads,
literature
Friday, March 02, 2012
Emptiness is killing me. Hits my face like the moon chrashes the sun. I gotta run, pick my gun, and shoot everyone. Kill everyone i know. Ask them to end this show. Eeny, meeny, miny, moe... Fuck life. Fuck hope. Fuck liars around me. Fuck friends. Fuck noise.
All i need is some comfortable place. And maybe some stairway to heaven. So i could run above and drag Iris to earth.
I want her to slap me. I want to feel the pain. I want to see my blood again.
Or should i ask my parents to kill me now? They'd be glad to.
All i need is some comfortable place. And maybe some stairway to heaven. So i could run above and drag Iris to earth.
I want her to slap me. I want to feel the pain. I want to see my blood again.
Or should i ask my parents to kill me now? They'd be glad to.
(Leostrada)
Labels:
goodreads,
literature
Monday, February 27, 2012
Ya?
Gue sadar 1000% gue tidak boleh egois. Gue pernah merasakan apa yang dia rasakan--mungkin--kalau ternyata memang itu alasanya.
Semua mahluk hidup selalu memasuki fase-fase baru yang berbeda. Menapakan kakinya pada sebuah undakan tangga yang baru. Semakin tinggi semakin keatas. Menuju pada tahapan yang lebih baik meninggalkan yang diperbaiki, dibelakang sana.
Gue tidak bisa menyalahi siapapun. Dan gue memang tidak menyalahi siapapun, begitu juga takdir. Bagaimana bisa menyalahi satu kodrat ekosistem yang memang telah ditakdirkan untuk saling keterkaitan dan membentuk populasi dan habitatnya sendiri.
Semua manusia punya standart kualitas zona aman dan nyaman yang mereka ciptakan sendiri. Bukan aneh memandangnya, tetapi memang salah satu hak asasi manusia.
Bukan kali pertama hal seperti ini terjadi pada diri gue. Berkali-kali.
Gue seperti berada di sudut lampu merah. Di atas trotoar dua warna. Bergeming melihat lalu-lalang.
Bagi gue pemandangan ini tidak asing. Ingat pada Garis-garis? Well, garis-garis itu kembali bergelombang.
Pada kenyataanya yang memang pahit, gue harus bisa mengakui dan menerima bahwa semua orang bisa berubah. Menerima dengan lapang dada memang bukan berarti jalan keluar yang paling tepat. Bahkan tidak juga mudah. Tapi gue yakin suatu saat jalan keluar yang tepat itu akan datang. Dan gue tinggal menunggunya. Meyakinkan diri sendiri bahwa sebuah kesabaran tidak akan berujung pada kekecewaan.
Semua mahluk hidup selalu memasuki fase-fase baru yang berbeda. Menapakan kakinya pada sebuah undakan tangga yang baru. Semakin tinggi semakin keatas. Menuju pada tahapan yang lebih baik meninggalkan yang diperbaiki, dibelakang sana.
Gue tidak bisa menyalahi siapapun. Dan gue memang tidak menyalahi siapapun, begitu juga takdir. Bagaimana bisa menyalahi satu kodrat ekosistem yang memang telah ditakdirkan untuk saling keterkaitan dan membentuk populasi dan habitatnya sendiri.
Semua manusia punya standart kualitas zona aman dan nyaman yang mereka ciptakan sendiri. Bukan aneh memandangnya, tetapi memang salah satu hak asasi manusia.
Bukan kali pertama hal seperti ini terjadi pada diri gue. Berkali-kali.
Gue seperti berada di sudut lampu merah. Di atas trotoar dua warna. Bergeming melihat lalu-lalang.
Bagi gue pemandangan ini tidak asing. Ingat pada Garis-garis? Well, garis-garis itu kembali bergelombang.
Pada kenyataanya yang memang pahit, gue harus bisa mengakui dan menerima bahwa semua orang bisa berubah. Menerima dengan lapang dada memang bukan berarti jalan keluar yang paling tepat. Bahkan tidak juga mudah. Tapi gue yakin suatu saat jalan keluar yang tepat itu akan datang. Dan gue tinggal menunggunya. Meyakinkan diri sendiri bahwa sebuah kesabaran tidak akan berujung pada kekecewaan.
Sunday, February 26, 2012
Saturday, February 25, 2012
Miris.
Dimana satu perubahan datang tanpa pengharapan.
Dimana senja tidak lagi berwarna jingga.
Dimana balerina kehilangan sepatu baletnya.
Dimana sebuah titik, tidak lagi memiliki ujung.
Hidup itu bergulir. Waktu tidak dapat dihentikan.
Meskipun kau menolak, tetap saja tidak akan berubah.
Ketika kau mencoba untuk mencegah, bisa jadi tidak akan sempat. Bahkan sebelum kau berfikiran untuk mencegah, hal itu akan menjauh darimu terlebih dahulu, mencuri start tanpa kau sadari.
Memori itu akan tetap ada, walau bisa sirna.
Memori itu akan tetap ada, apabila kau menginginkannya untuk tetap ada.
Memori itu sama seperti bekas luka.
Sekali terjatuh dan meskipun sudah dijahit, tidak akan pernah benar-benar hilang.
Dimana satu perubahan datang tanpa pengharapan.
Dimana senja tidak lagi berwarna jingga.
Dimana balerina kehilangan sepatu baletnya.
Dimana sebuah titik, tidak lagi memiliki ujung.
Hidup itu bergulir. Waktu tidak dapat dihentikan.
Meskipun kau menolak, tetap saja tidak akan berubah.
Ketika kau mencoba untuk mencegah, bisa jadi tidak akan sempat. Bahkan sebelum kau berfikiran untuk mencegah, hal itu akan menjauh darimu terlebih dahulu, mencuri start tanpa kau sadari.
Memori itu akan tetap ada, walau bisa sirna.
Memori itu akan tetap ada, apabila kau menginginkannya untuk tetap ada.
Memori itu sama seperti bekas luka.
Sekali terjatuh dan meskipun sudah dijahit, tidak akan pernah benar-benar hilang.
Labels:
literature
Thursday, February 23, 2012
Garis-Garis
Gue rasa, Tuhan menciptakan suatu takdir itu dengan alasan yang sangat kuat. Tuhan memberikan belah bagian hidup kita tanpa sedikitpun hal yang bisa dikoreksi. Sempurna.
Begitu tepat Tuhan menciptakan garis hidup seorang manusia. Saling singgung menyinggung dengan garis anak Adam lainnya, tanpa ada satupun yang terlewatkan. Garis hidup yang terkadang naik lalu turun. Garis hidup yang bergelombang yang suatu saat akan kembali lurus.
Garis-garis itupun tidak sendiri. Kemanapun garis itu melintang, mereka selalu ditemani bermacam-macam peristiwa dan dibimbing oleh beribu tutor bertopeng, bahkan terkadang tutor itu sampai tak bernyawa. Tutor itu mati. Tapi Tuhan tidak begitu saja melepas garis-garis itu sendirian. Tuhan pasti menurunkan kaki-tangan nya yang lain yang akan menuntun garis itu menuju pada cahaya putih dimana garis-garis itu tidak perlu lelah lagi berjalan. Dimana garis-garis itu akan berakhir bahagia.
Begitu tepat Tuhan menciptakan garis hidup seorang manusia. Saling singgung menyinggung dengan garis anak Adam lainnya, tanpa ada satupun yang terlewatkan. Garis hidup yang terkadang naik lalu turun. Garis hidup yang bergelombang yang suatu saat akan kembali lurus.
Garis-garis itupun tidak sendiri. Kemanapun garis itu melintang, mereka selalu ditemani bermacam-macam peristiwa dan dibimbing oleh beribu tutor bertopeng, bahkan terkadang tutor itu sampai tak bernyawa. Tutor itu mati. Tapi Tuhan tidak begitu saja melepas garis-garis itu sendirian. Tuhan pasti menurunkan kaki-tangan nya yang lain yang akan menuntun garis itu menuju pada cahaya putih dimana garis-garis itu tidak perlu lelah lagi berjalan. Dimana garis-garis itu akan berakhir bahagia.
Labels:
literature
Monday, February 20, 2012
Problematika abad 20
Satu fasilitas baru yang super helping people berkomunikasi di era mode masa kini.
Kerjaan, tugas, informasi semua dikerjakan dengan baik atas nama dunia maya.
Anehnya. Lambat laun, gue mulai bosan. Dunia maya memang gue akui membawa banyak sisi positif. Tapi sisi negatifnya juga tidak sedikit.
Dunia maya membentuk pribadi seseorang.
Dunia maya merubah pribadi seseorang.
Dengan chatting apapun bisa dicapai. Minta tolong ini itu ke pembantu contohnya, gak perlu repot-repot napakin kaki.
Nyatain cinta, modus-modus lewat bbm ayuk aja.
Sok jagoan di twitter bacot sana sini semakin menginfeksi abg labil.
Yang akhirnya menimbulkan perkara baru;
Cowok tidak lagi banyak yang Gentle. Semua aktivitas dilakukan lewat chatting.
Bahkan yang bikin otak gue mulai kebalik keheranan adalah, jaman sekarang, ada aja orang yang jadian tapi belum pernah bertemu sebelumnya dan hanya berkomunikasi melalui-apalagi kalo bukan;
bbm.
Strike.
Awalnya gue menikmati jalanya perkembangan teknologi di dunia, tapi lama kelamaan, gue ngerasa kurang memiliki momen-momen indah yang seharusnya dilakukan secara langsung. Bukan hanya chatting atau twitter.
Alesan gue ya klasik; bosen, man. Cuma itu.
Sekarang orang normal dan autis tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Karena sekarang, seorang normal bisa mirip bahkan persis seorang autis.
Pemandangan yang cukup bikin mau nonjok adalah dimana lo sedang asik hangout bareng temen2 lo dan yang lo liat dalam jarak waktu luang beberapa menit mereka semua menggenggam benda kecil-yang tapi pengaruhnya lebih dari besar- bernamakan; blackberry.
Semua sibuk mencet-mencet keypad, mandangin layar ponsel atau ngescroll trackball sekedar buka-buka recent updates.
Haruskah dilakukan itu? Harus banget kah ngecekin recent updates setiap menit? Seperti gak ada hal yang lebih berharga aja.
Gue akuin ngecekin recent updates memang sebenernya seru apalagi ngebantu banget kalo lagi nervous. tapi kondisi yang lagi gue singgung kali ini bukan hanya perkara hangout ke sekadar mall atau cafe. Gimana kalo berlibur ke puncak? Anyer? Atau bali? Atau tempat-tempat yang jarang dikunjungi, yang seharusnya kita bisa nikmatin alam dan udara segar di bandingkan ngecekin recent updates setiap menit.
Kadang gue mengharapkan segala hidup gue masih polos, naif, dan sederhana seperti apa yang ada di buku ataupun film. Mereka bertindak direct, bukan cuma lewat chatting atau smsan.
Well, hal yang tadinya ingin gue bahas sebenarnya tidak sampai ke tahap barusan.
Tapi apa daya kebetulan lidah tidak bertulang, otak tidak berujung dan jari-jari gue belum kesemutan. Selama kondisi gue masih normal dan sehat, selama itu juga gue akan tetap menulis.
Beberapa yang gue sampaikan diatas hanya sekelumit dari pengalaman-pengalaman semata pribadi gue.
Intinya.
Gue jenuh dengan aktivitas dunia maya. Mau menjauhkanya pun, gue rasa sulit. Tuntutan keadaan. Gue ga mau gambling juga.
Kalo mau ngomong sama gue ya temuin gue langsung, datengin gue. Jangan cuman bisa omong dan hilang diujung lidah.
Karena sejujurnya, gue mengharapkan tindakan lebih dr sekedar kata.
Labels:
thought
Subscribe to:
Posts (Atom)