Monday, July 02, 2012

Mandalawangi Pangrango





Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu.
Aku datang kembali ke ribaanmu, dalam sepimu, dan dalam dinginmu.
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna.
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan.
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu, seperti kau terima daku.

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi.
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada.
Hutanmu adalah misteri segala cintamu.
Dan cintaku adalah kebisuan semesta.

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi.
Kau datang kembali dan bicara padaku tentang kehampaan semua.

“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.”

Dan antara ransel-ransel yang kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu.
Melampaui batas-batas hutanmu.
Melampaui batas-batas jurangmu.
Aku cinta padamu Pangrango.
Karena aku cinta pada keberanian hidup


(Jakarta, 19 Juli 1966 - Soe Hok Gie)

Saturday, June 23, 2012

       Yang aku tahu aku punya mimpi. Walaupun belum jelas dengan pasti ingin menjadi apa ketika aku besar nanti. Manusia hidup karena mimpi. Dengan mimpi, hidup manusia memiliki arti.
       Semua ini adalah tentang mimpi.
      Walaupun mimpi masih menjadi materi yang tak terdefinisi, kalau kita mau, kita bisa raih apa saja yang jadi mimpi-mimpi itu. Kita tidak akan kalah selama kita tidak bilang kalah.
      Janjiku, mengabdi pada tanah Jawa. Kalaupun suatu saat aku mampi pergi merantau ke negeri orang, aku berjanji akan kembali. Handai taulan selalu menjadi rumah abadi, merekalah yang membuatku bermimpi. Aku bangga menjadi Indonesia yang punya mimpi.
       Patah diawal langkah merupakan pelajaran. Namun, kegagalan hanyalah hantu disudut pikir. Selama kita tidak pernah memikirkannya mereka tidak akan pernah ada. Tancapkan saja denyut nadi para pejuang terdahulu di benak kita, agar kita merasakan bagaimana perjuangan mereka menembus relung mimpi mereka.
      Bagaimana dan kapan hal itu terwujud tergantung bagaimana kita memulai dan bagaimana kita bertahan.
      Karena mereka yang berhasil berawal hanya dari sepotong mimpi...

(Tangan Kanan Langit by Annisa Rahma Putriana, 2012)